RSS

Difteri

12 Jul

Difteriadalah suatu penyakit akut yang sangat menular, yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Penyakiy ini ditandai dengan pembentukan pseudomembran pada kulit dan/atau mukosa. Corynebacterium diphtheria merupkan bakteri gram positif, tidak bergerak, pleomorfik, tidak berkapsul, tidak membantuk spora, mati pada pemanasan 60C, dan dapat bertahan dalam keadaan beku dan kering.

Penyakit ini tersebar di seluruh dunia. Angka kejadian menurun secara bermakna setelah perang dunia II, setelah toksoid difteri mulai digunakan. Selain itu terdapat pula penurunan angka mortalitas. Delapan puluh persen kasus terjadi pada anak dibawah usia 18 tahun. Meskipun demikian, dalam suatu wabah, angka kejadian menurut umur bergantung kepada status imunitas di populasi tersebut. Faktor sosial ekonomi, nutrisi yang tidak adekuat, terbatasnya fasilitas kesehatan dan kepadatan penduduk merupakan faktor penting terjadinya penyakit ini.

Cara Penularan

Manusia merupakan satu-satunya reservoir dari bakteri. Penularan penyakit ini terjadi apabila kontak langsung dengan penderita difteri atau dengan kontak langsung melalui batuk, bersin dan demam berbicara, eksudat dari kulit yang terinfeksi atau kontak tidak langsung melalui debu, baju ataupun mainan yang terkontaminasi. Penularan melalui droplet saluran nafas penderita yang asimtomatik merupakan faktor penting dalam penyebaran penyakit.

Gambaran klinis

Masa inkubasi difteri 2-5 hari. Pada difteri kutis masa inkubasi adalahrisesudah infeksi primer pada kulit. Pasien kemudian akan memperlihatkan keluhan-keluhan yang tidak spesifik seperti demam dan terkadang mengigil, kerongkongan sakit, dan suara parau, perasaan tidak enak, mual dan muntah, sakit kepala , rinorea berlendir dan kadang-kadang bercampur darah, dapat teraba adanya benjolan dan sembab pada daerah leher. Gambaran klinis yang terjadi bergantung kepada lokasi infeksi, imunitas penderita dan ada/tidaknya toksin difteri yang beredar dalam pembuluh darah.

Diagnosis

Diagnosis difetri ditegakkan terutama berdasarkan manifestasi klinisnya yang khas, karena keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan penyakit bertambah lanjut dan berat.

Diagnosis awal : diagnosis awal cepat dapat dilakukan dengan menggunakan pewarnaan gram, pewarnaan dan imunoflouresens, walaupun hasilnya kurang dapat diandalkan.

Diagnosis definitif dan identifikasi basil : diagnosis pasti ditegakkan atas dasar penemuan melalui pemeriksaan kultur dari lesi yang dicurigai. Spesimen diambil dari hidung, tenggorokan dan lesi kulit-mukosa yang dicurigai. Pemeriksaan ini membutuhkan waktu dan media yang selektif, yaitu Loffler, media Tellurite dan agar Tindale. Pada daerah perifer, spesimen hasil swab dapt ditempatkan di dalam gel silika dan kemudian dikirim ke laboratorium rujukan.

Pemeriksaan produksi toksin : pemeriksaan ini dikerjakan secara in vitro, dengan melakukan tes elek plate dan polimerase pig inoculation.

Pemeriksaan serum antibodi terhadap toksin difteri (antitoksin) : pemeriksan ini dilakukan dengan melakukan tes Shick. Uji ini berguna untuk mendiagnosis kasus difteri ringan dan orang yang kontak dengan penderita difteri.

Vaksin

Vaksin yang tersedia

Vaksin yang beredar di Indonesia antara lain :

Diphteria tetanus whole-cell pertusis (Tdwp) : Biofarma, Sanofi Pasteur (Pediacel)

Diphteria tetanus acellular-pertussis (Tdap) : GlaxoSmithKline ((infanrix, infanrix-Hib (kombinasi dengan vaksin Hemofilus influenza tipe B)), Sanofi Pasteur ( Tripacel)

Dipheteria tetanus (Td); Bio Farma

Tetanus toxoid (TT); Bio Farma

Indikasi dan cara pemakaian

Indikasi :

Jika orang dewasa belum pernah mendapatkan vaksin tetanus dan difteri sebelumnya maka orang tersebut harus mendapat vaksinasi lengkap 3 dosis seri primer dari difetri dan toksoid tetanus (Td), dengan 2 dosis awal diberikan paling tidak dengan jarak 4 minggu dan dosis ketiga diberikan 6 hingga 12 bulan setelah dosis kedua. Satu dosis Td dapat diganti dengan Tdap pada salah satu dari 3 dosis seri primer. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan dosis penguat (booster) setiap 10 tahun sekali. Vaksin atau Td dapat diberikan pada dosis penguat (booster)

Jika orang dewasa sudah pernah mendapat imunisasi tetanus dan difetri sebelumnya, maka diberikan dosis penguat (booster) setiap 10 tahun sekali. Satu dosis Td diganti dengan Tdap pada dosis penguat (booster)

Pada wanita hamil dapat diberikan vaksinasi Td pada trisemester ke-2 atau ke-3 jika pasien mendapatkan vaksinasi tetanus dan difteri > 10 tahun sebelumnya. Jika wanita hamil tersebut mendapatkan vaksinasi Td < 10 tahun, dapat diberikan Tdap secepatnya pada saat postpartum.

Cara Pemakaian

Suntikan diberikan secara intramuskular (IM). Hal ini dilakukan karena vaksin yang mengandung ajuvan apabila disuntikkan secara intradermal atau subkutan dapat menimbulkan iritasi lokal (inflamasi, formasi granuloma dan perubahan warna kulit) Suntikan umumnya dilakukan pada daerah deltoid dengan dosis 0,5 mL.

Manfaat : Dengan memberikan vaksin tetanus dan difetri, dapat mencegah kejadian tetanus hingga 100% dan kejadian difteri hingga 85%. Pada pasien geriatri, efektivitas vaksin tidak sebaik pada pasien dewasa muda.

Efek samping :

-Reaksi lokal kemerahan, bengkak, dan nyeri pada lokasi suntikan timbul pada separuh (42,9%) pasien yang mendapatkan suntikan Tdp

-Demam ringan mempunyai proporsi kejadian yang sama dengan reaksi loka

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Juli 2010 in kedokteran, Pengetahuan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Daisypath Happy Birthday tickers
  • Daisypath Anniversary tickers
  •  
    %d blogger menyukai ini: