RSS

Dikotomi Pekerjaan Seorang Dokter

16 Jan

Orang yang sakit (pasien) datang ke dokter untuk berobat kemudian dokter mengobatinya. Inilah pekerjaan utama dokter apalagi di tempat praktek. Dari hasil menyembuhkan orang, dokter menerima uang yang disebut dengan honor. Semakin banyak orang yang sakit dan berobat maka semakin banyak juga uang mengalir ke kantong dokter. Padahal orang yang sakit adalah orang yang sedang kena musibah dan patut dibantu, tapi disini dokter justru mengutip uang pada si pasien. Kalau sekilas membaca cerita di atas tergambar bahwa pekerjaan dokter seolah-olah mengambil kesempatan dari penderitaan orang lain. Apakah memang seperti itu???
Sebenarnya pekerjaan dokter bisa ditafsirkan menurut bagaimana pandangan dokter itu sendiri, ibarat manusia biasa dokter juga ada yang ikhlas dan ada yang hanya mengejar keuntungan dunia. Bagi yang ikhlas maka ketika dia bekerja maka diniatkan untuk membantu orang tetapi pada yang mengejar keuntungan dunia maka pasien hanyalah sebagai objek mendapat uang. Seorang dokter yang baik tentu akan menjadi bagian yang pertama. Disinilah kita akan memutar otak agar sebagai dokter kita dapat memiliki niat dan hati yang baik.
Pertama bahwa pekerjaan dokter selain kuratif (menyembuhkan) juga ada yang namanya promotif (mensosialisasikan cara hidup sehat), preventif (pencegahan terhadap penyakit), dan rehabilitatif (mengoptimalkan kembali fungsi tubuh sehingga dapat kembali beraktivitas normal). Jadi tugas dokter seutuhnya adalah menyembuhkan orang yang sakit dan meningkatkan kualitas kesehatan orang yang sehat. Caranya misal memberi saran untuk berolahraga secara teratur atau memberi contoh melalui dirinya. Dokter yang sehat, rapi, jarang sakit, dan bergaya hidup sehat, ini akan dicontoh oleh masyarakat sekitar. Oleh karena itu dokter mendapat tempat tersendiri di struktur masyarakat dan menjadi orang yang disegani.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Januari 2008 in Kajian, Kata Redaksi

 

2 responses to “Dikotomi Pekerjaan Seorang Dokter

  1. Dr adi sutaryo sppd

    26 Oktober 2008 at 10:53 am

    Assalm wr wb..mengapa sempit sekali pikiranmu?bgmana dgn pengacara?perawat praktik?bidan praktik dll..semua kau anggap bgtu?..jgn melihat dari luarnya saja,untuk mendapatkan gelar dr,pngacara,bidan,ir dll smua tidak mudah&pencapaian itu smua wajar mreka dapatkan,bukankan mereka juga manusia yg btuh biaya buat khidupan,mungkin anda cocoknya hidup di hutan&byk belajar dlu sblum masuk didunia komunitas publik..

     
  2. mita

    7 November 2009 at 8:44 pm

    askum.. maaf pak sebelumnya, sebenarnya saya setuju dengan pendapat anda klu dokter juga manusia dan mereka bukanlah malaikat, dan manusia pasti mempunyai kesalahan,dokter juga mempunyai kebutuahan yang pasti mereka mendapatkan upah dari pekerjaannya sebagai dokter.tapi,terkadang kenapa hal itu malah membebankan seorang pasien seperti,harus mengurus atministerasi dulu sebelumnya baru bisa di tangani lebih lanjut.saya tahu klu itu adlh kebijakan rumas sakit tapi,bagai mana klu soal membeli darah yang terkadang harga di RM jauh lebih mahal dari pada di PMI apa itu bukannya malah menyulitkan si pasien? mungkin tidak masalah bagi orag yg berekonomi menengah ke atas,bagaimana untuk masyarakat yg berekonomi menengah ke bawah?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Daisypath Happy Birthday tickers
  • Daisypath Anniversary tickers
  •  
    %d blogger menyukai ini: